Saat itu pulalah sentuhan lembut usapan jari emak aku rasakan.
Begitu penuh kasih sayang yang tak dapat di wujudkan dalam bentuk apapun.
Membanting tulang demi masa depan dan harapan yang lebih indah.
Mak..! dalam pelukmu aku bergumam kemiskinanlah yang memisahkan kita. Kemiskinanlah yang menyebabkan aku harus rela dijual layaknya barang dagangan dan tanpa perlindungan negara.
Namun Kemiskinan, penganguran, anak-anak terlantar mash melintang di tengah tanah yg subur dan kaya akan hasil bumi.
Indonesiaku.. Masih Dalam cengkraman kapitalis.
Kau bangga ketika rakyatmu berbondong menjual jasa.
Menjual harga diri bahkan menjual nyawa.
Kau disingasana kian sibuk menghitung banyaknya kucuran devisa.
Malah kau peras, kau siksa bahkan kau rampas upah kami tuk bayar potongan 7 bulan.
Karenamulah kami terlantar dan karena kamu pula lah kami tertindas dan miskin.
Kau.. Pura-pura peduli ketika penyiksaan terkuak nyata di hadapan jaksa.
Dan kau..
Pura-pura berduka ketika kawan kami pulang tanpa nyawa.
Hingga kami hidup dirudung pilu.
Kami tak butuh janji-janji kami hanya butuh perlindungan sejati darimu.
Semangatmulah yang kudamba, pedomanmu yang kuanut.
Mari maju bersama dengan satukan gengaman tanganmu.
Perkuat barisan untk meraih kemenangan dan keadilan yang hakiki.







