Thursday, September 26, 2013

Patung Budha dan Pantai Nelayan Tai O TungChung

Memanfaatkan hari libur nasional, aku dan sekelompok mengadakan kegiatan refreshing. Untuk kali ini tempat yang dipilih yakni Patung Budha dan kampung nelayan yang tempatnya di daerah Tungchung dan Tai o .

Tepatnya pada tanggal 20 september dari pagi aku sengaja bangun telat karena tempatku begitu dekat. Pembelian tiket dan juga antri bus menjadi tugasku sambil menunggu yang lain datang.Karena kereta gantung yang biasa di tumpangi sedang di renovasi, mau tidak mau harus antri bus yang seperti ular disambung 1 juta ekor.

2 jam telah berlalu akhirnya Eri datang menghampiriku sebagai teman ngobrol dan cengar cengirku ilang. Kami bagi tugas Eri sebagai penjemputan dan aku tetep bertahan dalam antrian dan akhirnya rombongan yang ditunggu datang peluk sapa yang pasti sumringah kami mengelegar. Tanpa sadar Eri belom kembali sementara kami sudah di pintu masuk bus akhirnya kami panik dan ribut. Ternyata masih menunggu tertinggal 1 orang dalam perjalanan, antrian kami 15 orang lumayan ribut dan beberapa bus melitas di hiraukan dan akhirnya petugaspun mulai menegur. Alhasil kami langsung masuk bus dan Eri menuju bus dengan mengelendeng 1 orang yang besarnya 4x lipat eri (si gendut) dan tiketnya pun masih aku bawa. Terpaksa mereka berdua naik dibelakang bus kami. Setelah ketemu tak dapat dibayangkan bagaimana reaksi Eri saat mengelendeng temen satunya lalu kita tertawa mengelagar lagi dan ini jadi bahan obrolan yang menarik.

Setiba di Patung Budha ku jumpai kerbau dan tangga naik yang tinggi untuk mencapai Patung tersebut ini gambarnya












Usai manjat tebing yang kira-kira 500 tangga, tibalah saatnya untuk mengisi perut yang keroncongan. Tidak ada makanan berjenis hewani (daging) ditempat tersebut adanya cuma makanan dari tumbuh-tumbuhan. ketika melihat makanan hanya gitu gitu aja (emi dan makanan tea time) terpaksa kami putuskan untuk masuk restoran. Dengan gembiranya langsung nylonong ke dalam restoran dengan kompak tiba-tiba ditegur oleh pelayan.
“ sudah daftar makan, berapa orang?”tanyanya. lalu dijawab dengan lantang oleh kawan yang di depan “enam belas”.
Ketika diminta kertas ternyata kita tidak punya dan harus mendaftar dulu di bagian kasir yang tempatnya terpisah, ternyata per orang itu biayanya $78 lalu kita mundur untuk kembali ke makanan yang tadi di bilang giru-gitu aja.









Setelah kenyang kami pindah tempat menuju Pantai Nelayan di Tai O



Persatuan Ternoda Dengan Satu Karakter

Bukan suatu keanehan jika suatu perkumpulan terasa hambar karena setetes nila.

Heni adalah seorang BMI yang bernasib lebih tragis dari kami.  Dia tinggal di daerah kowloon dengan job menjaga anjing yang dimana sang majikan juga mempunyai restauran (rumah makan) yang tentunya si Heni juga dipekerjakan disana. Belanja untuk restoran, jaga anjing dan tidak jarang dia sebagai pengantar makanan dan kadang pula ia berlari kesana kemari karena kepergok imigrasi.

Menurut peraturan labour departement HongKong, pembantu yang bekerja di sektor rumah tangga maka ia harus bekerja sesuai dengan kontrak. Dan buruh migran dari Indonesia hanya boleh bekerja jadi pembantu. Jika melanggar akan di berikan hukuman dengan sangsi akan diblacklist dan dipenjara, oleh sebab itu Heni selalu tidak tenang dalam bekerja.

Heni berpenampilan tomboy dengan berganti nama Ando. Ia terkenal periang dan suka bergaul. Akibat dari masalalu yang pernah tidak finish kontrak dia terpaksa hidup di Macau selama 2 tahun lalu ia kembali lagi ke Hongkong. Kehidupan dimacau membuat ia dililit banyak hutang yang menyebabkannya tidak berani libur ke daerah victoria karena takut dengan teman yang akan menagih hutang.

Genap 1 tahun Ando dirumah majikan bertemu denganku lalu aku ajak gabung dengan kami, kuajari untuk tanggung jawab dan melunasi segala hutang yang membebaninya akhirnya berhasil. Hari berhari, bulan selang bulan, dan tahun berganti riang canda dan tawa selalu mengiringi dan bebanpun terlepaskan. Namun perubahan telah nampak setelah ia punya banyak teman dan pergaulan dengan yang lainnya. Masalah mulai muncul dari ketidak jujuran, mulai punya sahabat, jarang komunikasi, dan tidak mau kumpul bareng sejak itulah kami jarang bersama.

Banyak hal kesalahan yang dia perbuat namun tidak pernah mengakuinya. Sampai beberapa bulan lamanya Ando menghindar dari tuntutan perkumpulan kami agar dia bertanggung jawab tapi dia masih tetep saja seperti buronan. Padahal kami tidak lagi menghantui dia. Akibat yang timbul dari kecerobohan dan kebohongan dia waktu itu ialah kami semua tidak punya keistimewaan dalam kebersamaan. Semoga hal ini tidak terjadi pada kawan kami yang baru dan himbauan kepada pembaca agar berhati-hati untuk mencari teman dan sahabat.