2004, Saya tiba di Negara bethon yang terkenal dengan aktor Jacky chan, yaitu Hong Kong. Dimana Negara ini adalah Negara kedua saya mencari nafkah setelah saya bekerja di Singgapore.
Sampai di bandara Hong Kong, jam 2 siang, saya di jemput salah satu staf agen dari Megasie, tempatnya di Biulding Sugar street Cousewa Bay. Sambil menunggu jemputan sang majikan saya di suruh duduk di rungan kecil, tanpa teman dan dengan pesan jangan main telpon genggam, saat di panggil staf harus bilang yes mom, kalau mau keluar ke kamar mandi harus minta ijin staf dulu. "Iya" semua jawabku.
Jarum jam menunjukkan pukul 05.00 pm. Saya di panggil staf suruh bawa tas rangsel saya, ternyata Mr Lam, majikan laki-laki saya yang menjemputku. Sambil interview di dalam MTR (Mass Tranportasion Rail) sebutan jawanya naik sepur, menuju alamat rumah yang di cantumkan yaitu di Hang Fa chuen. Dari menanyakan sudah makan atau belum sampai pengalaman kerja saya sebelumnya. Dan Mr Lam dengan bahasa inggrisnya, I Choose you becouse you can speek in english and experience take care two children, yang artinya aku memilih kamu karena pengalaman kerja menjaga anak dan kamu bisa bahasa inggris.
Sesampai di rumah majikan saya di kasih jadwal kerja dan harus menulis jam berapa aku selesai jam berapa pula aku mulai melakukan aktifitas kerja, majikan perempuan saya seorang guru, majikan laki-laki saya pegawai Imigrasi. Job saya yang tercntum di kertas hijau atau sering di sebut kontrak kerja yang isinya yaitu di rumah ada 2 orang dewasa dan menjaga 2 anak perempuan semua. Dan di dalam kontrakku tidak tercantum bekerja di rumah Popo setiap jam 3 sampai malam.
Tiga minggu sudah saya bekerja di rumah majikanku, dengan aktifitas pagi harus ngantar anak sekolah dari Hengfa chuen ke fortress Hiil tempat sekolah anak-anak sepulang ngantar sekolah harus membersihkan rumah, dan di sore harinya sampai malam saya harus kerumah Popo/ibu dari majikn perempuan, di Chaiwan Lokhinterece tepatnya, untuk membantu memandikan dan masak malam di rumah neneknya. Senang saja karena ini perintah majikan dan dalam pikiran saya selagi saya nurut apa yang majikan perintahkan, majikan pasti baik dengan saya. Tapi nurutpun aku tetap jadi tempat amarah majikan saya.
Dengan aturan majikan yang tidak boleh memakai bahasa kantonis, untuk bahasa sehari-hari dengan anak asuhku. Dengan model tomboy aku sering di panggil koko sama anak asuhku tapi setiap ketahuan sama majikanku pasti kita bertiga dapat hukuman berdiri di dekat pintu dapur, selama setengah jam lebih. Begitu juga saat saya keceplosan ngomong dengan bahasa kantonis contohnya" mumui lei faiti co kungfo, dan saat itu juga terdengar sama majikanku saat itu juga, saya di suruh menulis kata-kataku tadi dalam bahasa inggris 3 lembar folio bolak-balik. Saya sering dapat hukuman lainnya selama 1 tahun di majikan ini.
Hak liburku yang di sunat yang seharusnya full, pagi saya harus membatu pekerjaan di rumah nenek jam 3 sore baru keluar rumah dan jam 7 malam harus sudah menyiapkan makan malam mereka. Bukan hanya pekerjaan rumah saja, yang harus saya tulis setiap harinya tapi juga kemana saya libur jam berapa, sama siapapun saya harus menulis dan tulisan itu harus dikasihkan sama majikan. Saya mengeluh merasa tidak punya kebebasan dalam liburku, dalam batinku tidak bekerja, tidak libur saya harus menjadwal diri. Unhappy itu pasti dan berkepanjangan. Kerjaan kena cacat terus dan selalu tidak ada benarnya walaupun saya harus melakukan pekerjaan itu seperti lari estafet.
1 tahun 10 bulan saya memutuskan kontrak, alasanku karena terlalu capek hati dan pekerjaan. Saat itu saya belum mengenal banyak teman karena libur saya setengah hari kadang sabtu, kadang minggu bahkan hari biasa. Setelah saya keluar dari majikan dan saya kembali ke agen untuk mencari majikan lagi saya di sarankan agen untuk menunggu visa di Macau.
Saat saya di macau saya kenal dengan seorang teman dari organisasi dan saya di ajak bergabung di organisasi akhirnya setelah saya kembali ke Hong Kong saya benar ikut kegiatan di organisasi. Dari belajar memahami hak dan perturan hukum di Hong Kong.
Setelah sadar hukum, kalau ingat saya di perlakukan majikan seperti itu rasanya tidak terima. Tapi setelah saya di organisasi saya paham bahwa saya di pekerjakan seperti itu ilegal dan tidak boleh, karena di job kerjaku merawat 2 anak dengan alamat Heng Fa chuen. Tapi saya harus kerja dua rumah yang satu itu bukan job saya.
Pentingnya berorganisasi itu, tidak hanya untuk berkumpul dengan teman saja, ternyata bisa membuat diri kita sendiri paham apa yang seharusnya menjadi hak kita. Selain itu bisa membantu menyarankan kawan-kawan kita yang berkasus lainnya.
Pengalaman adalah guru terhebat bagi diri sendiri. Dan bagi kawan-kawan yang belum berorganisasi mari gabung bersama kami di Organisasi BTM- PILAR.
Semangat kak Sumber itu dukungan dari kawan-kawan.