Hong Kong, tujuan negara yang kupilih setelah sebelumnya saya bekerja di negara Singapura. Waktu itu setelah lulus sekolah di sebuah SMK di kota Ponorogo. Perkenalkan saya Ian tapi kawan-kawan lebih akrab memanggil Reyge sesuai nama di facebook saya. Saya BMI Hongkong yang bekerja mulai tahun 2004. Pertama kali masuk kerja di majikan yang tinggal di daerah Tsim Sha Tsui Hong Kong. Sebenarnya saya sudah bisa menyesuaikan dan beradaptasi. Khususnya dengan keluarga majikan dan kelihatan baik-baik saja. Libur penuh sebulan 4 kali serta publik holiday. Tapi entah mengapa saat terakhir pembayaran utang potongan 7 bulan di Bank Niaga selesai saya dipulangkan ke ejen atau tepatnya di interminit. Tanpa banyak tanya uang sisa gaji dan tiket saya terima karena harus kembali ke PT lagi di Indonesia. Waktu itu saya di carikan majikan lagi dan kata agen harus menunggu visa di Indonesia. Kalau ingat kejadian ketika itu saya sendiri menurut saja di lempar kesana kemari seperti barang dagangan. Tapi jika dipikir secara logika timbul juga pertanyaan apakah karena saya yang bodoh karena tidak mengetahui aturan hukum ketenagakerjaan yang berlaku di Hong Kong, atau memang tahun 2004 sistem nya begitu. Setiap BMI yang diinterminit langsung pulang ke PT dan contohnya kawan-kawan ku memang seperti itu.
Akhirnya sampai di PT saya memulai lagi belajar sambil menunggu visa turun. 3 bulan kemudian ada panggilan untuk bisa bekerja kembali ke Hong Kong. Bahagia sekali saat itu. Dalam fikiran saya hanya bisa mencari uang demi keluarga. Ibu dan Bapak dengan ikhlas melepas kepergian walau hanya lewat telpon umum atau biasa disebut Wartel. Mungkin ada dari kawan-kawan pembaca pernah mengalami kejadian ini?
Setibanya di Bandara yang kedua kalinya, perasaan canggung dan takut sudah mulai berkurang. Agen yang baru langsung menjemput dan mengantar saya tes kesehatan. Setelah 3 hari di agen barulah keluarga majikan baru saya yang tinggal di Taipo New Teritories menjemput untuk memulai bekerja. Ternyata majikanku adalah orang yang cukup kaya. Lebih kaget lagi ternyata sudah ada satu pembantu lain yang sudah setahun bekerja di sana. Yang pasti terkejut itu karena setauku tidak ada keterangan dari pihak PT bahwa ada 2 pembantu. Tapi majikanku kelihatannya baik hati akhirnya saya bungkam. Ya sudahlah. . .
Rumahnya lumayan besar. Rumah 3 tingkat dengan taman, dan tempat jemuran di lantai ke 4. Lengkap dengan kura-kura dan juga aquarium ikan hias. Lantai paling bawah di tempati kakek nenek dan juga keponakan majikan perempuan yang baru sekolah Secondary School. Lantai kedua ditempati anak pertama majikanku yang berumur 18 tahun. Kamar pembantu juga terletak di lantai kedua ini. Lantai ketiga adalah rumah majikanku bersama kedua anak-anaknya yang berumur 2 dan 5 tahun. Tapi semua saya jalani dengan lancar dan tidak ada masalah. Potongan 7 bulan kembali saya selesaikan dengan ikhlas. Hanya saja setelah kontrak kedua selesai, saya memutuskan untuk mencari pengalaman baru dengan mencari majikan baru karena di majikan ini libur ku cuma sebulan sekali.
Setelah di majikan baru di daerah shatin saya mulai bisa menikmati libur sebulan 4 kali walaupun terkadang hari sabtu. Sampai finish kontrak pertama saya mengambil cuti pulang indonesia. Saat pertama KTKLN mulai terdengar tapi saya lolos di bandara tanpa kartu itu. Kontrak keduapun tak ada masalah selama di majikan dan mulai mengenal Organisasi Beringin Tetap Maju (BTM-PILAR) Hong Kong.
Dari pengalaman itu, saya merasakan kejanggalan dengan potongan 7 bulan saya menjadi 14 bulan. Bodoh sekali.
Manfaat berorganisasi bagi saya benar-benar terasa. Mengetahui hak-hak kita sebagai BMI sangatlah penting.
Semangat buat kawan-kawan semua, jangan ragu untuk bergabung di Organisasi yang memperjuangkan hak-hak BMI.
We are worker, We are not slave.
Bagus ceritanya juga menarik fotonya lucu deh kak reyge.
ReplyDeletehehehe. mari terus berkarya kak sumber.
Delete