Aku punya teman baru. Namanya Imud, ia baru 1 bulan di HongKong. Orangnya bener-bener imut sesuai dengan namanya. Imud berasal dari Malang. Ia merantau untuk memperbaiki kehidupan dan meninggalkan 3 orang anak.
Mayoritas buruh migran di HK bekerja di sektor Rumah Tangga begitu juga dengan Imud. Kurangnya memahami bahasa membuat misskomunikasi dengan majikan, dan membuat Imud kerap mengalami penyiksaan. Pada suatu hari Imud dipukul majikan berkali-kali, ia tidak berani membantah ataupun melawan karena tidak bisa bahasa. Ketika waktu luang Imud segera mengambil hp untuk melaporkan kejadian tersebut terhadap kami. Serentak aku dan kawan-kawan meyankinkan Imud untuk melawan. melalui short message kutuliskan " lei mou ta ngo, ngo wui poking" artinya jangan pukul saya, saya akan lapor polisi. Pesan itu ditulis dikertas, lalu dibacakan ke majikan. Karena tidak tahu nadanya maka dibaca layaknya baca puisi dan akhirnya majikan meminta maaf tidak berani lagi memukul.
Ketika sore datang mendekati magrib tibalah waktunya makan malam secara otomatis Imud harus memasak. Majikan yang super resek dan bawel ini sudah belanja ke pasar membeli ikan. Namun belanjaan yang ia beli ketingalan di pasar, akhirnya majikan menyuruh Imud mencari belanjaan tersebut. Dalam kebingungan Imud telp Kak Sumber yang di panggil koko. Setelah bolak balik dari rumah ke pasar tidak ketemu akhirnya pulang kerumah dengan tangan kosong. Lalu majikan menyuruh imud untuk mencari di supermarket, akhirnya ketemulah disana.
Ada kejadian lucu yang dialami. Ketika itu handphone belum dimatikan oleh koko. Begini bunyi percakapan antara dia dan majikan.
Majikan: Kaka lei ko pengkon seksai mei a?. cungyao moa? artinya kakak snack mu sudah habis apa belum? masih ada tidak?
Imud : Yao a ( masih ada)
Majikan : lei cung yiu emyiu a ( kamu masih mau lagi?)
Imud : Yiuuu... ( mau).
Setiap pertanyaan yang dilontarkan selalu diambil bagian yang belakang. serentak membuatku tertawa.
Hal ini mengingatkanku ketika pertama kali datang ke Hong Kong dan sering mendapatkan komplin karena bahasa. Dalam batinku masih untung si Imud punya HP dan juga bisa komunikasi dengan kami, jika tidak?
Pesan ini yang selalu disampaikan Kak Sumber kepada Imud "jangan takut untuk melawan jika kita tertindas dan teraniaya, tidak ada yang bisa membantu kita kecuali diri kita sendiri". Dan sekarang Imud menjadi anggota aktip di BTM PILAR yang gigih memperjuangkan hak buruh migran.