Wednesday, November 20, 2013

Sebagian BMI Hongkong Mandi di Umum

Pengalaman baru, setelah 2 tahun kontrak kerja telah usai. Dan aku harus merenew kontrak ke agen yang sudah lama menjadi pilihanku, karena larangan kontrak mandiri membuatku harus menetap di agen tersebut.

Kontrak kedua dimajikan ini baru saja aku tanda tangani. Sabtu malam sengaja aku mandi larut dan tanpa sadar selesai jam 12 malam. Selang beberapa menit aku keluar air panas dikamar mandiku meledak. Untung aku selesai mandi jika tidak? mungkin tubuhku terguyur air panas dalam batinku bersyukur. Seisi rumah jadi ribut dan aku pun ikut ribut mondar mandir kesana kemari tanpa bisa melakukan apapun. Dan tidurkupun terpaksa diundur hingga jam 2 malam.

Minggu pagi jadwal liburku molor karena air seisi rumah di tutup. Lalu bos mengajakku ke kamar mandi umum untuk dipake sementara waktu sambil menunggu sifu (orang yang ahli dalam bidangnya) yang akan menganti heater. Malam aku pun juga harus mandi disana ternyata ada 3 orang babu yang selesai mandi pikirku hal yang biasa karena libur mandi diluar dan akupun engga perduli dengan mereka sekedar say “hai & hello”. Keesokan harinya antri begitu panjang mulai dari orang lokal, pembantu philipina dan indonesia. 

Rasa penasaranku muncul, usai mandi aku senggol mbak yang ada disampingku
aku : Mbak, emangnya setiap malam mandi disini ya?
Mbak : Iya
aku : kok bisa emangnya dirumah gak ada air?
mbak : gak boleh mandi dirumah 
aku : oo.. 
hanya itu jawabku karna gak berani memperpanjang pertanyaan.
Lalu aku beralih ke mbak yang lainnya. “Bagaimana denganmu?” tanyaku. Lalu dijawabnya “Rumahku kecil, kamar mandi satu jadi bosku menyuruhku mandi disini”.

Ternyata mereka setiap hari harus berbondong-bondong untuk antri mandi di kamar mandi umum. Entah ini kesalahan siapa yang pasti aku merasa kasihan dengan mereka yang harus mandi di kamar mandi umum dengan alasan yang kurang pas.

Tiga hari sudah aku harus mandi diumum dengan mereka, ada hal yang menarik tersendiri. Kadang terasa dikampung yang mandi antri sambil mendengarkan celotehan mereka saat bekerja dirumah majikan bisa di bilang juga berbagi dan untung saja gak ada yang ngegosip hehee. Disamping berbagi majikan yang cerewet ada juga yang selama tiga bulan tidak digaji oleh majikan karena memunggu visa baru dan telah aku sarankan untuk lapor ke labour departement namun terlambat kotrak baru dia tengah berjalan 4 bulan. 

“Waduuh mbak lain kali jangan mau ketja bakti la” celetukku. Ia hanya mengangukan kepala sambil merenges. Lalu aku tinggalkan mereka.

Kita lebih baik dari pada mereka, untuk itu semoga teman-teman bisa menoleh dengan kawan kita yang belum beruntung seperti kita. Apalagi dengan kawan kita uang tengah berkasus. Mari kita tingkatkan solidaritas kita teman-teman. 

1 comment: