Tuesday, March 25, 2014

Kisahku Menjadi Buruh Migrant Di Hong Kong

    Sepuluh tahun silam. Ya, 10 tahun silam. Aku harus mengingat 2003 dimana awal saya merantau. Di awal saya menjadi buruh migrant. Tidak pernah terlintas sama sekali keinginan menjalani kehidupan seperti ini. Apalagi Ibukupun juga pernah menjadi seorang Buruh Migrant di singapura. Entah ini faktor keturunan atau karena faktor lain yang memaksa. Yang pasti karena kemiskinan.

   Setelah lulus Sekolah Menengah Umum (SMU), aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Biaya uang gedung yang sangat mahal membuatku harus menepis keinginan itu. Dengan harapan besar dapat mengumpulkan biaya untuk kuliah, Aku memasuki gedung megah nan luas terletak di Singosari-Malang berlabelkan PT.ASRI CIPTA TENAGA KERJA. 'Deg' detak jantungku. Begitu menginjakkan kaki di pintu utama, darahku mengalir deras karena terkena hawa AC yang dingin. "Aku pasrah dengan hidup matiku kelak," batinku.

   Tujuh bulan sudah waktu berlalu. Hingga tibalah saat visaku turun dan akupun siap untuk diterbangkan ke Hong Kong. Aku berangkat menggunakan pesawat Cathay Pacific dari bandara surabaya. Seperti yang lainnya, aku berangkat lengkap dengan seragam dan tas tenteng. Seragam ini bukan pemberian gratis tetapi kami diwajibkan membeli di PT. Aku telah siap meningalkan Indonesia. Ting-tong suara bel pemberitauan pemberangkatan pesawat menuju Hong Kong telah dibunyikan. Akupun bergegas untuk naik. Perjalanan ditempuh selama 4 jam.

   Agen sudah menunggu kedatanganku. Setelah berjumpa, pertama-tama dibawanya aku ke asrama, kemudian ke kantor imigrasi untuk membuat KTP. Perjalanan dilanjutkan dengan melakukan penandatanganan perjanjian utang.

   Sepanjang perjalanan agen berpesan, "jika bertemu siapapun, baik orang Indo atau Cina, kalau ditanya tentang gaji kamu harus jawab 3270 dolar HK. Jika tidak, kamu akan di penjara." Mendengar kata penjara pikiranku sudah tidak karuan. Rasa takut mulai menimpaku. Apalagi dengan berbagai ancaman yang lain, agen membuatku harus tunduk dengan segala perintahnya. Dokumen pribadi seperti paspor, surat kontrak, dan buku labour yang dibagikan saat tiba di bandara HK juga diminta olehnya.

   Selang 2 hari majikan menjemputku. Dengan mengendarai mobil warna biru yang didalamnya sudah ada 2 orang anak, perempuan dan laki-laki. Yang perempuan berumur 9 tahun dan yang laki-laki 6 tahun. Merekalah yang akan aku rawat.

   Perjalanan begitu singkat dari Yuen Long tempat Agen ke Tuenmun tempatku bekerja. Sepanjang perjalanan kutemui gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan megah. Semua ini belum pernah aku lihat. Kerlap-kerlip lampu jalanan begitu indah. Dalam batinku, "inilah HongKong begitu elok yang bisa memikat ribuan buruh migran dan enggan untuk mengunjungi rumah seperti Sarmini, tetanggaku."

   Setiba di rumah majikan ternyata juga ada bobo. Maka, memasak, belanja, merawat anak, antar jemput sekolah, merawat orang tua, cuci mobil, dan bersih-bersih adalah job yang harus aku kerjakan. Semuanya sesuai dengan jadwal kerja yang telah tersusun. Hari-hariku kulalui tanpa istirahat.

   Ada satu pengalaman lucu ketika aku baru tiga hari bekerja. Nyonya mengundang tamu untuk makan bersama setelah sembahyang. Ia menyuruhku untuk bikin sup jagung, wortel, kubis dan daging. "Po liong ko cung" perintahnya sambil berlalu yang artinya rebus selama 2 jam. Karena pemahaman bahasaku masih minim dan bingung apa arti yang ia katakan maka semua bahan hanya aku rebus 20 menit. Alhasil masakan kurang matang telah jadi santapan Nyonya di depan para tamu.

   Ada juga kisah pilu. Setelah selesai potongan agen 7 bulan, aku digaji underpay 2.000 dolar, dan juga tidak dikasih libur. Pernah sekali aku merengek minta libur, gajikupun dipotong 200 dolar. Genap 10 bulan aku di interminit secara mendadak. Aku hanya disuruh tanda tangan agen yang isinya majikan telah membayar semua biaya interminit, gaji dan uang ganti libur. Namun semua uang tersebut di bawa oleh agen dan aku hanya tanda tangan saja, lalu diantar ke bandara hingga gate masuk.

   Aku telah dibodohi oleh agen dan oleh PT. Pemerintah Indonesia tidak melakukan apa-apa. Hukum yang ada bukannya melindungi kami, malahan menekan kami. Bahkan upah kerja kamipun dirampas.

    Kini aku belajar berorganisasi melalui BTM-PILAR. Di sini aku belajar mengetahui dan memahami hak-hak buruh migran. Hasil belajarku akan kusebarluaskan kepada setiap buruh migran di seluruh penjuru Hong Kong. Harapanku hanya satu, yaitu agar tidak ada lagi yang mengalami hal serupa seperti yang pernah aku alami.

2 comments:

  1. Ceritanya kurang masih loncat2 kak, kurang detail.
    OK kayau

    ReplyDelete